Ili-Ili, Irigasi, Dominasi: Banyu Iku Anyes Nanging “Panas” mengangkat dinamika politik di balik pengelolaan irigasi pada tingkat desa/kelurahan. Berangkat dari studi kasus di Kabupaten Purworejo, buku ini melihat Ili-Ili bukan sekadar sebagai pengatur aliran air, tetapi sebagai aktor lokal yang berada di antara petani, masyarakat, dan negara.
Air yang tampak sederhana ternyata menyimpan persoalan yang kompleks. Ketika air menjadi sumber daya yang terbatas dan digunakan bersama, ia berubah menjadi common pool resource (CPR) yang membutuhkan aturan, kesepakatan, pengawasan, dan mekanisme distribusi. Di dalam proses tersebut, muncul relasi kuasa: siapa yang mengatur air, siapa yang memperoleh akses lebih dahulu, siapa yang menentukan giliran, dan bagaimana kepentingan antarpetani dinegosiasikan.
Melalui dinamika Ili-Ili, buku ini memperlihatkan perjumpaan antara kelembagaan informal yang tumbuh dari kepercayaan dan praktik sosial masyarakat dengan kelembagaan formal yang dibentuk dan dikendalikan negara. Pergeseran dari sistem tradisional berbasis figur dan konsensus menuju P3A serta tata kelola yang lebih administratif menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana pengelolaan sumber daya di tingkat lokal berubah.
Lebih jauh, buku ini membawa pembaca melihat bahwa politik tidak selalu berlangsung di ruang pemerintahan atau arena elektoral. Politik juga hadir di saluran irigasi, di antara petak-petak sawah, dalam pembagian air, negosiasi antarpengelola, hingga hubungan sehari-hari antara petani dan aparat pengairan. Air menjadi arena tempat kepentingan, kekuasaan, kepercayaan, dan kebutuhan bersama saling berhadapan.
Dengan studi kasus Kabupaten Purworejo, Ili-Ili, Irigasi, Dominasi menjadi bacaan yang relevan bagi pembaca yang tertarik pada politik lokal, politik agraria, tata kelola sumber daya air, common pool resource, kelembagaan desa, serta dinamika sosial masyarakat pedesaan. Buku ini mengajak kita melihat kembali sesuatu yang sehari-hari begitu dekat—air—sebagai sumber daya yang tidak pernah benar-benar netral.
Banyu iku anyes, nanging “panas”. Air memang terasa sejuk, tetapi di balik alirannya terdapat perebutan kepentingan, negosiasi, dan relasi kuasa yang terus bergerak.



Reviews
There are no reviews yet.